Kabupaten Tangerang, asaterkini.id– Menjelang bulan Ramadhan 1447 H/2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang menggelar Rapat Koordinasi Pengendalian Harga Bahan Pokok dan Gerakan Pangan Murah (GPM).
Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati (Wabup) Tangerang, Intan Nurul Hikmah mengatakan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) tahun 2026, harus benar-benar tepat sasaran dan menyentuh langsung kepada masyarakat yang membutuhkan.
Komoditi yang ditawarkan, lanjutnya, juga harus menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan pasar, dengan subsidi harga sekitar Rp.40.000-45.000 per paketnya. “Pelaksanaan GPM Tahun 2026 ini jangan hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menyentuh atau berpihak kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Intan Kamis (22/1/2026).
Baca juga: Perkuat Aspek Hukum, Bandara Soetta Jalin Kerjasama Dengan Kejari Kota dan Kabupaten Tangerang
Isi paketnya, imbuh Intan, jangan dibakukan. Komoditasnya harus menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan kondisi harga pasar. Apabila harga telur dan ayam yang mahal, itu yang harus disiapkan.
Intan juga menjelaskan, ketepatan sasaran penerima manfaat GPM sangat penting. Karena itu camat harus memvalidasi data masyarakat miskin, dan miskin ekstrim agar subsidi pangan benar-benar diterima oleh mereka yang membutuhkan, khususnya di wilayah pesisir utara (Pantura), seperti Teluknaga, Pakuhaji, Sepatan, Kronjo, Kemiri, dan Mekar Baru.
Selain itu, ia juga meminta kepada OPD terkait agar terus mendorong keterlibatan petani dan peternak lokal dalam penyediaan bahan pangan untuk mendukung program GPM. “Segera lakukan validasi data masyarakat miskin dan miskin ekstrem, mereka adalah prioritas utama penerima manfaat,” tandasnya.
Baca juga: Sejahterakan ASN, Pemkot Tangerang Siapkan Rumah Dengan Cicilan Murah
Wilayah Kabupaten Tangerang, imbuhnya, juga memiliki potensi peternakan ayam pedaging dan petelur, khususnya di wilayah Kresek dan Gunung Kaler. Mereka bisa diberdayakan untuk mendukung GPM sekaligus menekan harga di pasaran.
Harga Komoditas Komoditas
Lebih jauh Intan mengungkapkan, kondisi cuaca dengan intensitas hujan yang tinggi seperti saat ini sangat berdampak pada sektor pertanian, dan berpotensi memicu kenaikan harga sejumlah komoditas strategis, seperti beras, minyak goreng, telur ayam, daging ayam, cabai, dan bawang.
Untuk itu, ucapnya, semua pihak terkait terus memonitoring kenaikan dan ketersediaan bahan pokok secara rutin dan berkala, sehingga dapat diambil keputusan bersama lintas sektor untuk mengatasi kenaikan harga dan ketersediaan bahan pokok di masyarakat.
Baca juga: Perkuat Inklusi Keuangan Syariah, Sun Life dan Bank Muamalat Hadirkan Bancassurance Week 2025
“Faktor cuaca ini juga harus kita perhitungkan bersama, karena dampaknya bisa memicu kenaikan harga. Kondisi itu sudah Saya cek ke lapangan, minyak goreng mulai langka dan harganya di beberapa pasar sudah melampaui harga eceran tertinggi. Telur dan ayam juga menjadi komoditas yang sering naik pada waktu-waktu tertentu,” ujarnya.
Lebih jauh Intan berharap, melalui rakor yang dilakukan ini, bisa menjadi forum strategis untuk menyamakan persepsi dan koordinasi lintas sektor dalam menjaga stabilitas harga serta ketersediaan bahan pangan pokok di Kabupaten Tangerang. Mengingat jelang Ramadhan identik dengan meningkatnya kebutuhan pokok.
“Stabilitas pangan adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan sinergi semua pihak, kita ingin masyarakat Kabupaten Tangerang dapat menyambut dan menjalani bulan suci Ramadhan dengan tenang, aman, dan sejahtera.” tuturnya.
Guna merealisasikan hal tersebut, kata Intan, harus hadir di tengah masyarakat untuk memastikan ketersediaan bahan pokok aman dan harga tetap terkendali.
Sementara itu, Pimpinan Perum Bulog Cabang Tangerang, Riki Pebriadi menjelaskan, kondisi stok pangan di wilayah Tangerang Raya masih aman dan mencukupi. Saat ini, paparnya, Bulog memiliki cadangan beras sekitar 54.300 ton, yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga hampir satu tahun ke depan.
“Cadangan beras Bulog sekitar 54.300 ton saat ini. Stok minyak goreng ‘Minyak Kita’ tercatat sekitar 11.000 ton, minyak premium, serta gula pasir dan komoditas pangan lainnya yang siap disalurkan untuk mendukung stabilitas harga,” paparnya.
IPH Masih Terkendali
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tangerang, Resmiyati Marningsih menyampaikan, bahwa Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kabupaten Tangerang masih dalam kondisi terkendali.
Pihaknya bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan harga mingguan serta intervensi pasar, termasuk fasilitas distribusi minyak goreng langsung ke pengecer dan pelaksanaan Warung Tekan Inflasi secara berkala sepanjang tahun 2026. (CS)